SUKSESKAN SAIL BANDA 2010

Antara Boediono & Banda Naira [3]

BOEDIONO RESMIKAN STKIP HATTA-SJAHRIR
DI BANDA NAIRA


Banda Naira, Maluku - Wakil Presiden terpilih Boediono meresmikan Sekolah Tinggi Keguruan & Ilmu Pendidikan Hatta-Sjahrir di Banda Naira, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Sabtu (26/09/09).

Peresmian tanpa kata sambutan itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan KAMPUS HATTA-SJAHRIR yang dipusatkan di lokasi Monumen "Parigi Rante", tempat pembantaian puluhan pejuang dan 40 "Orang Kaya" (gelar kebangsawanan) Banda atas perintah Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen dari Vereenigre Oostindishe Compagnie (VOC), pada 8 Mei 1621.

Boediono yang didampingi Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu dan tokoh masyarakat Banda Des Alwi, sebelumnya menyaksikan daftar nama-nama 40 tokoh pejuang dan orang kaya Banda yang dibuat monumennya pada lokasi "Parigi Rante".

Des Alwi yang juga sebagai saksi sejarah mengatakan, pada pembantaian tersebut delapan sesepuh pejuang Banda, tubuhnya dipenggal menjadi empat bagian, sedangkan 32 lainnya dipancung kepalanya.

Zaman kolonialisme Belanda di Kepulauan Banda 1602-1621, sedikitnya 6.000 rakyat setempat juga dibunuh, 789 diasingkan ke Jakarta dan 1.700 lainnya melarikan diri ke Banda Ely, Kabupaten Maluku Tenggara dan sejumlah daerah lainnya di Pulau Peram.

Peresmian STKIP Hatta-Sjahrir dan peletakan batu pertama pembangunan kampus tersebut diakhiri dengan doa oleh Kepala Urusan Agama Banda Naira, Mahfud Thalib.

Sebelumnya Rektor STKIP Hatta-Sjahrir, Professor Hamadi, mengatakan, lembaga pendidikan yang dipimpinnya memiliki 2 program studi, yakni Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) dan Budidaya Perairan (BDP) dengan jumlah mahasiswa sebanyak 340 orang, di mana 39 orang di antaranya telah lulus dalam dua tahap wisuda.

Lembaga pendidikan ini dibuka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) tertanggal 10 Juli 2001.

Lembaga pendidikan ini juga telah membuka SEKOLAH TINGGI PERIKANAN dan berencana membuka SEKOLAH TINGGI PERTANIAN dengan tujuan mendukung pembukaan UNIVERSITAS HATTA-SJAHRIR, sebagai bagian dan penghormatan terhadap kepedulian dua tokoh nasional yakni Muhammad Hatta dan Sutan SJahrir terhadap dunia pendidikan saat diasingkan belanda di Banda Naira 1936-1942.

Boediono bersama istrinya Ny. Herawati dalam kunjungan ke Banda Neira selama dua hari juga mengunjungi rumah pengasingan Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan Cipto Mangunkusumo, istana mini yang menjadi replika Istana Bogor, gereja tua Banda, rumah budaya, agrowisata pala, gunung api, benteng Belgica dan tabur bunga di Teluk Lautaka berkaitan dengan heroisme pejuang perempuan Boy Kerang saat melawan penjajah.

Selain itu, Boediono yang terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden, juga akan dianugerahi gelar adat tertinggi Banda yang biasa disebut Kepala "Oranglima" Utama, serta melakukan penyelaman untuk menyaksikan langsung keindahan alam bawah laut Kepulauan Banda.
[source]

baca lagi.. »

Antara Boediono & Banda Naira [2]

BUDIONO DIANUGRAHI GELAR ADAT TERTINGGI BANDA

Banda Naira, Maluku (ANTARA News) - Wakil presiden terpilih Budiono dan istrinya Ny Herawati dianugerahi gelar adat tertinggi di Pulau Banda, Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Sabtu.

Budiono dianugerahi gelar Kepala "Orang lima" Utama sedangkan istrinya Ny Herawati diberi gelar "Maruka" Utama.

Penganugerahan gelar kepada Budiono ditandai dengan pemasangan "Kapsete" (penutup kepala dari burung cenderawasih) dan pengalungan selendang oleh tokoh masyarakat Banda Des Alwi dan disaksikan gubernur Maluku kKrel Albert Ralahalu.

Ny. Herawati diberi selendang adat, tusuk konde dan kipas oleh istri Gubernur Maluku Ny Sofie Ralahalu.

Des Alwi mengatakan, gelar Kepala "Orang lima" Utama merupakan bagian dari rumpun adat Maluku yakni "Patalima".

Sedangkan gelar "Maruka" Utama menunjukkan emansipasi dan perjuangan perempuan Banda saat melawan penjajah akibat suami mereka dibantai.

Des alwi menyatakan, gelar adat tersebut mengikat Budiono yang akan dilantik menjadi Wapres mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden lima tahun ke depan itu, bertujuan menjadikannya sebagai pelindung adat dan budaya di Pulau Banda yang telah dilestarikan sejak 500 tahun terakhir ini.

"Saya saat berbicara dengan budiono di Jakarta beberapa waktu lalu, ternyata beliau berkeinginan untuk menelusuri dan menyaksikan sendiri sejarah perjuangan para tokoh nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan dan pernah diasingkan ke Pulau Banda," ujarnya.

Budiono juga memanfaatkan kunjungannya untuk melihat rumah pengasingan tokoh Proklamator Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Cipto Mangunkusumo dan sejumlah tokoh nusantara lainnya yang dibuang ke Banda saat zaman penjajah.

Selain itu mengunjungi istana mini, gereja tua Banda, rumah budaya, agrowisata pala, gunung api, benteng Belgica, Pulau Hatta dan Pulau Syahrir serta menabur bunga di teluk Lautaka berkaitan dengan heroisme pejuang perempuan "Boy Kerang" saat melawan penjajah.

Ia juga meninjau monumen "Parigi Rante" sebagai tempat pembantaian puluhan pejuang dan 40 "Orang Kaya" (gelar kebangsawanan) Banda pada 8 Mei 1621 atas perintah Gubernur Jenderal VOC Jan Pieter Zoon Coen.

Setelah kunjungan dua hari di Banda Neira, Budiono selanjutnya menjadwalkan kunjungannya ke Papua.

baca lagi.. »

Antara Boediono & Banda Naira [1]

BOEDIONO NIKMATI MATAHARI TERBENAM DI BENTENG BELGICA

Banda Naira, Maluku - Wakil Presiden (Wapres) terpilih Boediono menikmati matahari terbenam di benteng Belgica, di bukit kawasan Desa Nusantara, Bandaneira, Provinsi Maluku, Minggu.

Boediono bersama istrinya, Ny Herawati didampingi Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dan Ny Sofie serta sesepuh Banda, Des Alwi saat menunggu terbenamnya matahari pada lantai dua benteng yang dibangun pada 1611 itu, disuguhi tarian lenso dan cakalele( perang).

Tari lenso disuguhi empat gadis Bandaneira dengan iringan tabuhan tifa dan gong ( gamelan) sembilan dari Kampung Baru yang semuanya perempuan mendapat tepuk tangan Boediono dan pengunjung lainnya.

Suasana bertambah marak saat tari cakalele yang melambangkan kepatriotisme para pejuang dan orang kaya (bangsawan) Banda melawan penjajah Belanda (1602 - 1621) dengan puncak pembantaian pada "parigi rante" pada 8 Mei 1621, membuat Boediono terpesona dan memutuskan menemui para penari di lantai dasar benteng yang dibangun Pieter Both.

Boediono menemui para lima penari pria dan para pendukung yang dengan santun mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih - terima kasih, lestarikan budaya bernilai sejarah ini. Mari kita foto bersama," ujar Boediono yang langsung disambut berebutan berjabat tangan, bahkan ada memanfaatkan untuk mencium pipi kiri dan kanan Wapres terpilih, yang dijadwalkan dilantik 20 Oktober 2009.

Boediono usai foto bareng itu selanjutnya kembali ke lantai dua benteng Belgica yang dijuluki "mahkota berpucuk lima" karena memiliki lima buah penangkal, sambil mendengar antusias penjelasan Des Alwi soal bangunan cagar budaya tersebut.

Kurang puas menyaksikan benteng yang didisain dengan 58 buah tempat meriam itu, selanjutnya dia memutuskan untuk naik ke salah satu dari lima buah penangkal guna menyaksikan Kepulauan Banda yang memiliki 10 pulau.

Boediono kagum dengan pesona daerah ini dari benteng yang saat matahari terbenam berhadapan langsung dengan gunung api Banda, yang terakhir meletus 9 Mei 1988.

Usai turun dari penangkal melalui tangga besi, Boediono mengutarakan pada Des Alwi bahwa benteng Belgica ini berbentuk kura - kura.

"Om Des benteng ini berbentuk kura - kura dengan dua penangkal bangunan depan benteng menunjukan kaki bagian belakang, dua penangkal samping kiri dan kanan melambangkan kaki depan dan satu penangkal mengarah ke selat zona gate adalah kepala," ujarnya yang disambut senyum Des Alwi.

Boediono menyarankan Gubernur Ralahalu dan Des Alwi agar memanfaatkan benteng yang lokasinya bisa memandang Banda dari berbagai penjuru itu untuk menggelar pentas seni saat "Sail Banda" 2010.

"Disain acara yang sesuai dengan strategis lokasi maupun arsitektur benteng yang memilikiu 23 ruangan karena pasti menggugah peserta pelayaran internasional," katanya.

Mengakhiri kunjungan ke benteng Belgica selama sekitar 1,5 jam Boediono dan ibu Herawati menyempatkan diri juga berfoto bersama dengan Gubernur Ralahalu dan Ny.Sofie, Des Alwi, timnya dari Jakarta seperti Dirjen Perbubungan Udara Dephub Herry Bakti, Rizal Malarangeng , dan presenter kabar malam TV ONE, Tina Talisa.

Boediono selama di Banda 26 - 28 September 2009 juga mengunjungi sejumlah cagar budaya berkaitan dengan Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Cipto Mangungkusumo, angrowisata pala, selam di perairan setempat dan tabur bunga di perairan Lautaka untuk menghormati srikandi Bhoy Kerang yang melawan penjajah Belanda.

Selain itu, dia juga meninjau gereka tua Neira, meresmikan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta meletakkan batu pertama kampus Hatta - Sjahrir dan berdialog dengan tokoh masyarakat, agama dan adat setempat. (Antara News)

baca lagi.. »

SAIL BANDA 2010 [2]

BOEDIONO SIAP PROMOSIKAN SAIL BANDA 2010

Banda, Maluku - Wakil Presiden terpilih, Boediono menyatakan kesiapannya untuk mempromosikan kegiatan pelayaran bertaraf internasional bertajuk "Sail Banda 2010."

"Saya tidak janji, hanya bila dilantik sebagai wapres pada 20 Oktober 2009 mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saya siap mempromosikan kegiatan bertaraf internasional tersebut," katanya di Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu malam.

Ia menyatakan kesiapannya saat bertatap muka dengan tokoh masyarakat Banda dan jajaran Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah yang dihadiri Wakil Bupati Imanuel Seipala, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, dan sesepuh masyarakat Banda, Des Alwi.

"Sail Banda memiliki nilai jual strategis di bidang pariwisata yang bisa menjaring para pelayar internasional dan wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke daerah yang memiliki andil sangat besar bagi Indonesia itu," katanya.

Hanya saja, ia mengingatkan nilai jual itu harus didukung dengan stabilitas keamanan yang senantiasa terpelihara sebagaimana kenyataan yang dirasakan selama kunjungannya pada 26-28 September 2009.

Begitu pula sarana dan prasarana seperti kepastian penerbangan reguler yang dikeluhkan masyarakat selama empat tahun terakhir, karena hanya sekali penerbangan dari sebelumnya yang mencapai tiga kali penerbangan selama sepekan.

Selain itu, kualitas sumber daya manusia harus menunjang pengembangan pariwisata sejarah dan budaya di Pulau Banda yang sudah terkenal hingga ke mancanegara sejak abad 15.

Sarana dan prasaran kesehatan dan jalan pada 10 pulau pada Kecamatan Banda serta sistem demokrasi dan pemerintahan bersih harus direalisasikan demi kesejahteraan masyarakat.

"Itu merupakan bagian dari visi dan misi SBY-Boediono sehingga dipercaya rakyat Indonesia untuk memimpin bangsa ini lima tahun ke depan," katanya.

Boediono juga mengingatkan masyarakat Banda soal wacana pengembangan daerah ini sebagai otorita seperti Batam.

"Jangan terhanyut dengan istilah-istilah yang sebenarnya bila direalisasikan tidak sesuai dengan berbagai potensi di daerah ini," katanya.

Sebaliknya, Boediono mengusulkan lembaga perguruan tinggi di Maluku mengkaji undang-undang kawasan ekonomi khusus yang saat ini dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah atau kawasan potensial.

"Kalau hasil kajiannya strategis, silahkan usul kepada pemerintah pusat, dan sekali lagi saya tidak berjanji tetapi saya siap memperhatikan demi kesejahteraan masyarakat Banda khususnya dan masyarakat Maluku pada umumnya," katanya.[sumber]

baca lagi.. »

SAIL BANDA 2010

Pojok Laut Banda