SUKSESKAN SAIL BANDA 2010

Mimpi tentang Banda Masa Depan

".....mengasingkan Banda sama dengan bersikap acuh dan tak peduli terhadap negeri sendiri. Ketidakpedulian terhadap negeri sama halnya dengan membutakan mata dan menutup rapat telinga kita terhadap segala persoalan yang malanda negeri ini..."


Oleh: Muhammad Farid, M.Sos (Poetra Run)


Kurang lebih 60 tahun yang lalu, pernah tinggal di Banda Naira seorang briliant dan pemikir sejati, yang kemudian menjadi pendiri Negara Republik Indonesia, dialah Dr. Ir. Mohammad Hatta. Motivasi Belanda "membuang"-nya di Banda Naira adalah agar dapat dengan mudah "mengontrol" nalar kritis Hatta yang dipandang berbahaya bagi stabilitas kompeni yang saat itu menjadikan Banda sebagai Pusat Pemerintahan VOC-nya (Governer). Banda yang juga dikenal sebagai wilayah perdagangan rempah-rempah dunia, dus tempat perjumpaan para saudagar Eropa dan Timur Tengah yang datang, bermukim dan berketurunan di Banda Naira. Karena itu, wajar saja bila banyak dari warga keturunannya yang manis-manis dan tampan rupawan. Konon katanya, alasan ini pula yang melatarbelakangi pengasingan Hatta di Banda, yaitu agar "sibuk" mengurusi urusan "keduniaan" dan bukan "kenegaraan".


Namun niat jahat Belanda justru menjadi bumerang yang telak mengena jantung pertahanannya sendiri. Hatta dan kawan-kawan malah menjadi lebih kritis dan semakin bersemangat untuk mewujudkan "mimpi" mereka tentang Negara Kesatuan Indonesia yang berdaulat, bersatu, adil dan makmur. Maka disusunlah rancangan kasar dari butir-butir Proklamasi Kemerdekaan RI, yang ditulis di Banda Naira. (dalam hal ini masyarakat Banda patut berbangga hati, sebab jauh sebelum rakyat Indonesia mengetahui rumusan Proklamasi Kemerdekaan, orang Banda sudah "menikmati" aroma kemerdekaan itu lebih awal)

Midas dan musuh kecil
Jika dianalogikan, gambaran sejarah di atas mengingatkan kita pada cerita anak tentang Serigala Midas yang selalu ingin memangsa hewan-hewan ternak kecil (ayam, itik dan babi kecil) lainnya yang hidup tidak jauh dari tempat tinggalnya. Namun usaha Midas tidak pernah berhasil. Kelicikan Midas selalu saja gagal oleh kecerdikan musuh kecilnya yang dengan lihai mampu menjaga keselamatan diri dan tempat tinggal mereka. Alhasil, ambisi Midas untuk memuaskan kepentingan pribadi harus berakhir dengan malapetaka dan kesialan di setiap akhir episode. Belanda si-penguasa dapat saja kita samakan dengan Midas, sementara "musuh kecil"nya adalah Bung Hatta dkk yang kritis, dinamis, maju, dan loyal terhadap bangsa.

Orang Banda dalam Jerat Problematika
Kini, di era Reformasi, Banda seakan tenggelam dalam lautan sejarah masa lalu. Dan membuat banyak orang lupa, bahwa di Banda pernah terukir sejarah penting tentang kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan bagi sebagian orang Banda sendiri, sejarah tidak lebih dari puing-puing bangunan tua yang tak bernilai sama sekali. Banda akhirnya kembali menjadi tempat pengasingan (atau diasingkan?) untuk kesekian kali!
Padahal, mengasingkan Banda sama halnya dengan bersikap acuh dan tak peduli terhadap negeri sendiri. Ketidakpedulian terhadap negeri sama halnya dengan membutakan mata dan menutup rapat telinga kita terhadap segala persoalan yang malanda negeri ini. Jika dirunut sejumlah persoalan ada, sungguh tulisan ini tak sanggup melakukannya.
Namun tentunya, kita tidak bisa terus menerus membutakan mata terhadap nasib nelayan yang terjerat patokan harga ikan yang sangat tinggi? Kita pun tak bisa berpura-pura tuli terhadap teriakan saudara-saudara kita yang tak kebagian jatah beras miskin yang hilang entah kemana? Kita juga tidak bisa acuh terhadap nasib pekerja yang hidup dibawah standar UMR oleh perusahaan asing? Belum lagi masalah BBM yang harganya menjulang tinggi tidak rasional?
Lebih dari itu, butakah kita terhadap kondisi ummat yang hidup dalam sekat curiga, cemburu, dan iri hati? Atau sikap superior satu kelompok atas kelompok yang lain; yang menganggap hanya "orang kampung saya" yang bisa begini dan begitu, sementara "orang kampung lain" tidak bisa, bahkan tidak boleh. Belum lagi asumsi-asumsi negatif yang mempetak-petakan masyarakat kedalam golongan orang negeri dan pendatang. Adakah perhatian kita terhadap persatuan dan kesatuan ummat?

Bagaimana dengan potret vulgar pola "pergaulan bebas" masyarakat kita? Dengan maraknya tempat-tempat hiburan malam (billiard, prostitusi, miras adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan). Adakah kepedulian kita terhadap masa depan anak negeri? Kenapa ironi ini harus terjadi di negeri kecil, dan hanya didiami oleh satu umat?!

Pemimpin & Masyarakat: Dua Cermin berhadapan
Rasulullah saw., pernah bersabda: "Bagaimana keadaan kalian, demikian pula ditetapkan penguasa atas kalian". Kalimat singkat ini mengandung beberapa makna:
Pertama, ia dapat berarti seorang penguasa atau pemimpin adalah cerminan dari keadaan masyarakatnya. Pemimpin atau penguasa yang baik adalah yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya, sedangkan masyarakat yang baik adalah berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka.
Kedua, dapat pula bermakna suatu pesan untuk tidak tergesa-gesa menyalahkan terlebih dahulu pemimpin yang menyeleweng, durhaka atau membangkang, karena pada hakekatnya yang bersalah adalah masyarakat itu sendiri. Bukankah pemimpin adalah cerminan dari keadaaan masyarakatnya?

Jadi, apapun problem yang dihadapi masyarakat akan terasa begitu lekat dengan sang pemimpinnya, begitupun sebaliknya. Karenanya dapat dipahami mengapa Nabi Muhammad saw. menekankan pentingnya mengangkat pemimpin yang kuat, punya keahlian, dan amanah. Rasul bersabda: "Amanat terabaikan dan kehancuran akan tiba, bila jabatan diserahkan kepada yang tidak mampu."

Sebaliknya, masyarakat yang enggan menegur atau mengoreksi pimpinannya atau menyanjungnya secara berlebihan pada hakekatnya telah menanam benih keangkuhan dan kebejatan pada diri pempimpinnya walaupun pada mulanya sang pemimpin adalah seorang yang baik. Disinilah pentingnya peranan koreksi sosial atau dalam bahasa agama, amr ma’ruf nahy munkar yang harus terbina dalam hubungan pemimpin dan masyarakatnya.

Bila hubungan pemimpin dan yang dipimpin dimaknai sebagai satu kerangka tubuh yang saling berhubungan dalam mengemban amanat bersama. Maka modal utama yang harus dipegang adalah Istiqamah dalam memperjuangkan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik; saling nasehat-menasehati dalam kebajikan, menegakkan amr ma’ruf nahy munkar bersama-sama demi kemajuan negeri yang lebih baik. Berhentilah menyalahkan pemimpin jika umat sendiri tak ingin maju dan diperbaiki. Sebaliknya, sebagai pemimpin jangan anti-kritik dan emosional jika mendapat koreksi dari rakyatnya ketika ia berbuat salah. Akui itu sebagai kekhilafan, dan terimalah dengan lapang dada.

Jika hubungan harmonis ini telah terbina, maka kriteria putra daerah atau tidak, orang nagri atau pendatang, bertitel tinggi atau rendah, berkulit hitam atau putih bukan lagi ukuran, selama dia mampu mengemban amanat dan beroerientasi pada kemaslahatan umat, maka dialah yang pantas menjadi pemimpin.

Renungan Kita bersama
Cerita tentang kelihaian ternak kecil untuk menghindar dari tipu muslihat Midas dapat menjadi pelajaran bagi rakyat yang selalu dizalimi pemimpinnya yang serakah dan mementingkan nafsu pribadi. Meskipun itu hanya dongengan anak, namun memiliki korelasi dengan kisah perjuangan Hatta di Banda Naira melawan penjajah yang semena-mena, memeras keringat rakyat, membunuh daya nalar, dan mengasingkan rakyat dari wilayahnya.

Gabungan kedua kisah tersebut akan memberikan bekal semangat untuk maju dalam membangun negeri ini menjadi lebih bermartabat. Dan untuk menggapai sebuah kemajuan, masyarakat Banda harus kritis, loyal dan berani untuk "membungkam" segala bentuk penipuan terhadap hak rakyat banyak, sikap-sikap egoistik untuk memperkaya diri sendiri, sikap angkuh dan anti kritik diantara masyarakat dan pemimpinnya. Namun tetap jujur, amanah dan bertanggungjawab dalam segala sikap dan tindakannya.

Jadi, berhentilah bernostalgia tentang Banda yang maju, makmur, indah dan memiliki nilai historis tinggi, sebab semua itu bukan hanya cerita lalu, tapi juga nyaris punah oleh "tangan-tangan kotor" manusia sendiri. Bangunlah dari mimpi dan lihatlah Banda kini. Apa yang kita temukan hanyalah penggalan-penggalan sejarah diselimuti kebusukan hati dan pikiran, kebodohan dan keterbelakangan. Atau tetaplah bermimpi jika kita terlanjur "senang" hidup dibawah mendung yang sedang menggantung.

Wallahu a’lam

baca lagi.. »

Lima (5) Tipe Karyawan di Kantor Kita.....

dari: A'a Gym

Pengklasifikasian karyawan dan pejabat kantor ini didekati dengan istilah hukum yang digunakan dalam agama Islam. Pendekatan ini sama sekali bukan untuk mencampuradukkan atau merendahkan nilai istilah hukum tersebut, melainkan hanya sekedar guna mempermudah pemahaman kita karena makna dari istilah hukum tersebut sangat sederhana dan akrab bagi kita. Mudah-mudahan bisa jadi cara yang praktis untuk mengukur dan menilai diri sendiri. (Ide dasar ini diambil dari pendapat Emha Ainun Najib)

1. Karyawan / Pejabat "Wajib"
  • Tipe karyawan atau pejabat wajib ini memiliki ciri : keberadaannya sangat disukai, dibutuhkan, harus ada sehingga ketiadaannya sangat dirasakan kehilangan.
  • Dia sangat disukai karena pribadinya sangat mengesankan, wajahnya yang selalu bersih, cerah dengan senyum tulus yang dapat membahagiaan siapapun yang berjumpa dengannya.
  • Tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi hati yang gersang, penuntun bagi yang tersesat, perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan, orang merasa terhormat dan bahagia untuk memenuhi harapannya tanpa rasa tertekan.
  • Akhlaknya sangat mulia, membuat setiap orang meraskan bahagia dan senang dengankehadirannya, dia sangat menghargai hak-hak dan pendapat orang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta mendapat manfaat dengan keberadaannya
2. Karyawan / Pejabat "Sunnah"
  • Ciri dari karyawan/pejabat tipe ini adalah : kehadiran dan keberadaannya memang menyenangkan, tapi ketiadaannya tidak terasa kehilangan..
  • Kelompok ini hampir mirip dengan sebagian yang telah diuraikan, berprestasi, etos kerjanya baik, pribadinya menyenangkan hanya saja ketika tiada, lingkungannya tidak merasa kehilangan, kenangannya tidak begitu mendalam.
  • Andai saja kelompok kedua ini lebih berilmu dan bertekad mempersembahkan yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya dia akan naik peringkatnya ke golongan yang lebih atas, yang lebih utama.
3. Karyawan / Pejabat "Mubah"
  • Ciri khas karyawan atau pejabat tipe ini adalah : ada dan tiadanya sama saja.
  • Sungguh menyedihkan memang menjadi manusia mubadzir seperti ini, kehadirannya tak membawa arti apapun baik manfaat maupun mudharat, dan kepergiannya pun tak terasa kehilangan.
  • Karyawan tipe ini adalah orang yang tidak mempunyai motivasi, asal-asalan saja, asal kerja, asal ada, tidak memikirkan kualitas, prestasi, kemajuan, perbaikan dan hal produktiflainnya. Sehingga kehidupannya pun tidak menarik, datar-datar saja.
  • Sungguh menyedihkan memang jika hidup yang sekali-kalinya ini tak bermakna. Harus segera dipelajarilatar belakang dan penyebabnya, andaikata bisa dimotivasi dengan kursus, pelatihan, rotasi kerja, mudah-mudahan bisa meningkat semangatnya.
4. Karyawan / Pejabat "Makruh"
  • Ciri dari karyawan dan pejabat kelompok ini adalah : adanya menimbulkan masalah tiadanya tidak menjadi masalah.
  • Bila dia ada di kantor akan mengganggu kinerja dan suasana walaupun tidak sampai menimbulkan kerugian besar, setidaknya membuat suasana tidak nyaman dan kenyamanan kerjaserta kinerja yang baik dapat terwujud bila ia tidak ada.
  • Misalkan dari penampilan dan kebersihan badannya mengganggu, kalau bicara banyak kesia-siaan, kalau diberi tugas dan pekerjaan selain tidak tuntas, tidak memuaskan juga mengganggu kinerja karyawan lainnya.
5. Karyawan / Pejabat "Haram"
  • Ciri khas dari kelompok ini adalah : kehadirannya sangat merugikan dan ketiadaannya sangat diharapkan karena menguntungkan.
  • Orang tipe ini adalah manusia termalang dan terhina karena sangat dirindukan "ketiadaannya". Tentu saja semua ini adalah karena buah perilakunya sendiri, tiada perbuatan yang tidak kembali kepada dirinya sendiri.
  • Akhlaknya sangat buruk bagai penyakit kronis yang bisa menjalar. Sering memfinah, mengadu domba, suka membual, tidak amanah, serakah, tamak, sangat tidak disiplin, pekerjaannya tidak pernah jelas ujungnya, bukan menyelesaikan pekerjaan malah sebaliknya menjadi pembuat masalah. Pendek kata di adalah "trouble maker".
Silahkan anda renungkan, kita termasuk kategori yang mana...?

Semoga semua ini menjadi bahan renungan agar hidup yang hanya sekali ini kita bisa merobah diri dan mempersembahkan yang terbaik dan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat nanti. Jadilah manusia yang "wajib ada". Semoga!


baca lagi.. »

KENALI diri lewat SEJARAH (bag.3)

Oleh: Muhammad Farid, M.Sos
(editor Buku "Sejarah Banda Naira", Karya Des Alwi)

Hikayat Lonthor
Pada awalnya Pulau Banda dihuni 2 orang suami-isteri, Suaminya bernama Andan, Isterinya bernama Dalima. Mereka berdua tinggal di Gunung Kumber. Tiga nama panggilan gunung itu, adalah; Gunung Kulitcipu, Gunung Bendera, Gunung Sarua. Dari perkawinan Andan dan Dalima, dikaruniai 5 (lima) orang anak, Anak pertama, laki-laki bernama Kaki Yai, Anak kedua, laki-laki bernama Kele Laiy, Anak ketiga, laki-laki bernama Lele Waiy, Anak keempat, laki-laki bernama Kele Liang, Dan yang kelima (bungsu), bernama Cilubintang. Mata pencahariannya sebagai nelayan, memancing dan mencari siput di laut, selain itu juga berkebun pada bukit-bukit sekitarnya. Dari waktu ke waktu mulailah orang-orang berdatangan untuk mencari hidup di Pulau Andan ini, para pendatang yang menetap diharuskan seizin dari kepala Andan sebagai tuan tanah di Pulau Banda ini, yang ketika itu masih bernama Pulau Andan.

Sesudah para pendatang tinggal beberapa lama di Andan, mereka kembali ke kampung halaman masing-masing, mereka bercerita tentang Pulau Andan dan tersiarlah khabar bahwa Pulau Andan yang subur banyak terdapat beberapa mata pencaharian antara lain melaut dan berkebun. Maka berduyun-duyun orang berdatangan untuk mencari hidup dan menetap di Pulau Andan ini. Semakin banyak pendatang yang menetap dan menjadi penduduk di Pulau Andan, maka sebutan Pulau Andan ini berubah menjadi Pulau Banda. Para pendatang banyak yang tinggal di kota Blarak. Dengan tersiarnya kabar bahwa, selain Pulau Banda, para pendatang juga berdatangan ke Pulau Rosengin (Pulau Hatta) untuk tinggal/menetap, disana mencari penghidupan baru sebagai nelayan. Ketiga saudara ini, Anak pertama Kaki Yai, Anak kedua Kele Laiy, Anak ketiga Lele Waiy, Berangkat ke Pulau Rosengin ( Pulau Hatta ) dengan korakora untuk menyelidikinya. Setelah mereka, tiga bersaudara tersebut tiba dan tinggal di Pulau Rosengin (Pulau Hatta) beberapa lama, maka datanglah musibah angin taufan, sehingga pulau ini tenggelam dan sekarang disebut Sekaru Pulau Hatta. Pada waktu musibah tersebut, ketiga bersaudara itu terpisah (selamat dengan kora-kora mereka). Kedua saudara yaitu anak keempat Kele Liang dan si bungsu (Cilubintang) yang tinggal di Gunung Bendera dan Gunung Kulit Cipu Pulau Banda mengungsi ke tempat lain yaitu di Gunung Keliy, mereka bergabung dengan orang-orang pendatang antara lain salah satunya bernama Silawane, waktu itu penduduk Pulau Banda tidak terdapat sumber air sama sekali, bila mereka memerlukan airterpaksa mengambil di Gunung Bendera dan Gunung Kulit Cipu. Tempat airnya terbuat dari bambu (lodong ), air yang mereka pikul kadang kala berceceran sehingga timbul beberapa aliran anak sungai kecil-kecil. Kesedihan dan kerinduan adiknya yang bungsu (Cilubintang) kepada ketiga saudara yang sedang berada di Pulau Rosengin, yang telah lama belum juga kembali maka dengan tangisan dan menggosok-gosok kakinya di tanah tetes air mata Cilubintang itu jatuh ke tanah sehingga menjadi kolam air mata Cilubintang. Sekarang ini dinamakan air kampung yang tiap-tiap upacara buka kampung harus mengambil air kampung itu waktunya pun pada jam 12 malam dengan toples/botol.

Ketiga saudara yang ditimpa musibah angin taufan itu terdampar di salah satu kepulauan Indonesia (yang mereka tidak tahu namanya) yang penduduknya beragama Islam. Setelah mereka bertiga tinggal beberapa lama di pulau itu, akhirnya mereka bertiga pulang lagi ke Pulau Banda, tetapi di tengah laut Kaki Yai (anak tertua) terlempar ke laut dan tenggelam, kedua saudara itu berusaha mencari Kaki Yai yang tenggelam namun tidak ditemui, keduanya (Kele Laiy dan Lele Waiy) melanjutkan perjalanan pulang ke Pulau Banda. Dalam perjalanan tiba-tiba dihadapan mereka terlihat sebuah gunung dan ternyata gunung itu adalah gunung api. Tibanya kedua bersaudara bertepatan pula waktu menjelang subuh di hari Jumat. Mereka singgah untuk shalat subuh dan sekarang tempat itu disebut Sembayang. Setelah shalat subuh mereka berangkat menuju ke Kumber, dan di tengah perjalanan antara Banda Besar dan Gunung Api mereka mendengar beduk berkali-kali. Mereka pun memutar haluan ke tempat asal bunyi itu.

Ketika tiba di tempat itu mereka bertemu dengan kedua saudaranya itu ialah Cilubintang dan Kele Liang. Mereka pun bertanya “siapakah yang mengajar agama Islam di kampung ini”, maka dijawab oleh Cilubintang, “yang membawa agama Islam adalah Kaki Yai (anak tertua)”. Maka dua bersaudara itu (Kele Laiy dan Lele Waiy) terkejut mendengarnya, keduanya merasa heran, Kaki Yai yang telah jatuh kelaut rupanya masih hidup, juga tibanya lebih dahulu dari mereka berdua. Kaki Yai (anak tertua) bercerita tentang kejadian yang menimpa dirinya di tengah laut, bahwa ia ditolong oleh seekor hiu (yo) raksasa, hiu yang badannya berbintang-bintang. Sebagai pembawa jalan adalah seekor ikan serui dan sebagai penerang jalan atau lampu jalan adalah sekelompok ikan tali-tali (ikan momar). Kisah kecelakaan Kaki Yai itu sampai sekarang ini ada dalam kabata tarian Cakalele Lontor.

Lima bersaudara mendirikan sebuah Mesjid yang sekarang ini disebut Mesjid Kenari Istiga, saat itu pula pendatang-pendatang baru yang tinggal di Pulau Banda memeluk agama Islam, maka tersiarlah Khabar di seluruh Kepulauan Banda ini bahwa di kampung Wailondor sudah masuk agama Islam dan dalam kabata pun tarian Cakalele disebut “Salam Lebi dulu Wailondor’e”.

Pulau Banda banyak pula didatangi orang-orang dari kepulauan sebelah Timur. Sampai hari ini tempat itu pun disebut Pantai Timur. Salah seorang Kapitan Timur bermaksud meminang Cilubintang (si bungsu), kelima saudara pun menyetujuinya, sedangkan sebagai mahar perkawinan permintaannya diserahkan sendiri kepada Cilubintang. Keputusan Cilubintang maharnya berupa buah pala sebanyak 99 buah. Mendengar permintaan Cilubintang, Kapitan Timur terkejut mendengarnya karena nama buah pala baru didengarnya, bentuk dan rupanya pun belum diketahuinya. Setelah beberapa lama mencari buah pala, kemudian Kapitan Timur itu kembali dengan membawa 99 buah pala sebagai mahar, namun sayangnya sebelum memasuki hari pernikahan Kapitan Timur meninggal dunia. Buah pala yang diberikan Kapitan Timur itu oleh kelima bersaudara mulai ditanamnya di tempat kelahiran mereka yaitu Gunung Kulit Cipu dan Gunung Bendera.

Semakin banyak pendatang dari seluruh pulau-pulau dari bagian barat ke Pulau Banda ini, seperti orang-orang Jawa, Kalimantan dan Sumatra. Pulau Banda mulai ramai, diantara salah satu pendatang adalah seorang Jawa keturunan ningrat (raden) yang kemudian meminang Cilubintang untuk menjadi isterinya. Maka kawinlah Cilubintang dengan orang Jawa tersebut (raden) dan setelah berkeluarga tak lama kemudian mereka pergi ke Jawa.

Keempat saudara Cilubintang membentuk kelompok-kelompok yang dipimpin oleh seorang Nira atau kepala kelompok atau ketua kelompok. Sesudah terbentuk sembilan kelompok, tiap-tiap kelompok harus mencari sumber air. Setelah beberapa hari mencari sumber air, maka sebuah kelompok secara kebetulan melihat seekor kucing yang baru saja keluar dari semak-semak dengan badan telah basah. Maka kelompok itu masuk ke semak-semak ke arah keluar kucing tadi dan ternyata kucing itu baru habis minum dalam sebuah kolam (sumber air). Kelompok yang telah menemukan sumber air itu lalu memberi tanda dengan memukul tifa berkali-kali. Kemudian berdatanganlah kelompok-kelompok lain kepada kelompok yang menemukan sumber air itu, dan diceritakanlah tentang penemuan sumber air itu. Dengan bahasa adat, yaitu “Ramjati Kami Ramjati Kubunyi Ngeong-ngeong Kami Ramjati” dan bila ada acara cuci sumur pusaka, kabata itu harus disebutkan dalam beberapa waktu lamamya baru mereka membuat sumur. Tapi malang dalam penggalian sumur terjadi musibah tanah longsor, sehingga 33 orang meninggal dunia dan harus disiapkan kain putih sebanyak 99. [kutipan langung dari buku “Sejarah Banda Naira”]

Nah, jadi ngerti kan asal nama “Banda” yang dulunya “Andan”? Kita juga jadi tahu sebab musabab beberapa hal, seperti; asal terjadinya “kolam cilubintang”, kenapa disebut “pante sambayang”, atau cerita mistik dibalik penemuan “sumur pusaka” di lonthor? Dan masih banyak lagi lainnya.

Wah, ternyata Banda juga punya cerita mistis tentang asal muasal nya. Sama halnya dengan peradaban-peradaban besar dunia lainnya, seperti; mitologi Yunani Kuno, China, Mesir Kuno, dll. Mungkin itulah karakteristik masyarakat terdahulu yang begitu lekat dengan dunia mistis.

Tapi agak sulit juga kalo “hikayat lonthor” disebut mistik, yang berarti gak masuk akal. Sebab, naskah itu ada dan tertulis, meskipun banyak yang meragukan keaslian bahasa yang ditulis dengan bahasa yang digunakan zaman itu. Dalam kunjungan Gubernur Jendral De Graaf pada 1925 di Banda Naira, Said Baadilla berhasil membawa De Graaf ke kampung adat Lontor untuk kunjungan resmi, dan De Graaf memberikan kampung adat Lontor bendera oranye sebagai tanda setia kepada Pemerintah Belanda. Saleh Nurbati atau Nerabati kemudian memberikan Hikayat Lontor kepada Gubernur Jendral Graaf. Pada 1927 keluarlah hasil penelitian dari ahli sejarah Belanda di Indische Museum Amsterdam, bahwa walaupun ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (Arab), Hikayat Lontor dianggap tidak asli karena bahasa Melayu dari hikayat tersebut adalah bahasa Melayu abad ke-20 (modern) dan bukan bahasa Melayu kuno. Karena kejadian tersebut maka Regent Lontor Saleh diganti dengan O.K Samsi pada 1927.

Sewaktu Bung Hatta dibuang ke Banda Naira, saat berada di pantai Belakang Lontor seorang bernama Abdul Kader menunjukkan naskah hikayat itu kepada Bung Hatta. Setelah Bung Hatta membacanya, komentar Bung Hatta bahwa Bahasa yang digunakan dalam hikayat itu tidak sesuai dengan ragam bahasa yang semestinya digunakan pada zaman itu. Tulisan itu hanya merupakan dongengan, kata Hatta. Sementara itu Bung Sjahrir juga pernah mendengar adanya Hikayat Lontor, tapi ia tidak pernah membacanya dan juga tidak tahu siapa yang menyimpannya. Hikayat Lontor itu kalau betul otentik pasti sudah disebut oleh ahli sejarah Ulama Radjali dari Hitu atau Valentijn yang pernah tinggal di Lontor pada 1690-1701.

Benarkah “hikayat lonthor” hanya dongengan semata? Atau merupakan cerita asli rakyat Banda? Hanya Allah yang tahu. Kita hanya patut bersyukur, karena telah memiliki “sejarah” tanah kelahiran kita. Meskipun sejarah memang selalu “berpihak” pada penulisnya.

baca lagi.. »

Political Dynamics and Religious Change...

Political Dynamics and Religious Change in the Late Pre-Colonial Banda Islands, Eastern Indonesia
Peter V. Lape

Abstract

Recently completed archaeological survey and excavation, in conjunction with a re-anal y sis of historical documents and oral histories, brings to light new evidence about the pre-colonial (tenth to seventeenth centuries) society of the Banda Islands, once the world's sole source of nutmeg. The new data challenge historical assumptions about settlement, Islamization and the nature of trade networks in pre-colonial Banda. They also have implications for the history of conflict between Bandanese and European colonizers, which resulted in genocide, enslavement or forced migration of the Bandanese population in the 1620s, and the beginning of the colonial era in what is today Indonesia.

World Archaeology, Vol. 32, No. 1, Archaeology in Southeast Asia (Jun., 2000), pp. 138-155. This article consists of 18 page(s).

baca lagi.. »

KENALI diri lewat SEJARAH (bag.2)


Oleh: Muhammad Farid, M.Sos
(editor Buku "Sejarah Banda Naira", Karya Des Alwi)

Banda dalam hikayat kuno
Sejarah Banda Naira, secara sederhana bisa dipetakan menurut masa-masa tertentu, berdasarkan temuan naskah-naskah kuno, maupun artefak-artefak yang tertimbun di dasar tanah Banda. Artinya, sejarah yang tertulis rapi baru ditemukan sejak masa penjajahan Portugis, atau bahkan Belanda persisnya.

“Banda kuno” bisa ditemukan dalam sebuah naskah yang dikenal dengan nama “hikayat lonthor”. Meski naskah ini diragukan banyak pihak, termasuk para peneliti dan ahli sejarah Belanda di Indische Museum Amsterdam, namun bagi masyarakat Banda umumnya, naskah ini masih diakui orisinil. Sebab banyak sekali korelasi yang signifikan antara cerita dalam hikayat ini dengan adat-istiadat yang berlaku di masyarakat Banda sampai saat ini. Nah, karena itu, dengan mengetahui hikayat ini, kita akan semakin terbuka mata dan pikiran tentang makna dari dalam simpul-simpul adat yang selama ini kita lakukan. Penasaran kan apa isi hikayat-nya?

baca lagi.. »

Kenali diri lewat sejarah yuk.....

Oleh: Muhammad Farid
(editor buku "Sejarah Banda Naira", karya Des Alwi)

Dengar nama Banda, pasti agak asing buat kebanyakan orang, soalnya kata Banda sering dikaitkan dengan Banda Aceh, ujung Barat republik ini yang beberapa tahun lalu dapat cobaan Tsunami. Tapi banyak orang pasti ngerenyitkan dahi waktu dengar nama Banda Naira. Dimana sih letaknya? Itu pertanyaan yang sering muncul, yang kadang-kadang bikin kita pusing 7 keliling bagaimana cara nunjukinnya, karena di peta terlalu kecil alias cuma satu titik. Buat orang Banda pastinya tau dong, tapi yang bukan orang Banda, wajarlah....walaupun sebenarnya itu menunjukkan minimnya wawasan ke-nusantara-an kita, betul?

Sebagian orang baru mengenal Banda kalo kita sebutin bersamaan dengan tokoh-tokoh penting seperti; Bung Hatta, Sjahrir, Iwa K., Dr.Tjipto, untuk menyebut beberapa diantara tokoh-tokoh pendiri Republik Indonesia yang pernah "dibuang" disana. Ato figur Oom Des, seorang Sejarawan atau bahkan pelaku sejarah yang masih bisa kita temui saat ini. Nama-nama mereka memang terlalu "dekat" dengan Banda. Bahkan gak lengkap menyebut Banda tanpa nama dan peran mereka. Khususnya nama yang terakhir, jelas telah memberikan sumbangsih jiwa dan raga untuk "menjembatani" Banda dengan masa lalunya, masa kini, dan masa depan.

Lalu, apa arti Banda Naira? Mengapa disebut "Banda" dan mengapa pula disandingkan dengan kata "Naira"? Lalu apa artinya "Andansari", nama yang menurut banyak orang adalah nama asli kepulauan rempah-rempah itu? Mengetahui itu semua akan membuka wawasan kita tentang kedahsyatan Banda Naira dalam lintasan sejarah Nusantara.

Banda, atau yang sebenarnya merupakan reduksi kata dari "Bandar", bermakna "Kota Pelabuhan", diduga kuat berasal dari bahasa melayu kuno, yang makna itu sekaligus menjelaskan eksistensi wilayah kepulauan ini di masa lalu sebagai "pelabuhan" rempah-rempah dunia. Bayangin aja, sejak 600thn lalu para saudagar dari negeri tirai bambu (China) sudah berdagang di Banda, lalu diikuti Islam (dari Spanyol), dan kemudian Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Melihat fenomena ramainya kota Banda, jelas aja, kata "Banda" harus disandingkan dengan kata "Naira", yang berasal dari kata Nayirah (bahasa Arab) atau yang artinya "bercahaya", "berkemilauan", sebab itulah banyak orang tertarik datang ke Banda.

Yang menarik dari Banda, pastinya adalah rempah-rempah yaitu Cengkeh dan Pala. Saking seringnya orang Cina dagang pala, mereka mengucapnya dengan kata Tjintieh (bahasa Cina), syzigium aromaticum untuk bahasa latin-nya. Sementara Pala lebih dikenal di dataran Eropa yang dikenal dalam bahasan latin Mauristica Fragrans.

Perpaduan asal kata "Banda", yang dari melayu, dan "Nayirah", yang impor Arab, menegaskan persinggungan budaya lokal dan asing yang begitu intens terjadi dari dulu sampai sekarang. Bukan hanya itu, nama-nama desa, dan jalan-jalan di Banda sampai saat ini masih ada yang menggunakan nama import, seperti Papenberg (jerman/belanda), Selamon (arab), Run (inggris), jalan Eldorado (Portugis/Spanyol). Atau istilah perk untuk tempat-tempat tertentu, yang sebenarnya merujuk pada lokasi perk/perkebunan pala milik penjajah Belanda. Walhasil, Banda bukan hanya kaya akan rempah, tapi juga sangat kaya akan bahasa.
Bersambung.......

baca lagi.. »

Salam Kenal:

Hai Teman-teman !

Saya pengen tau nih siapa aja yang bisa mengakses ke sini biar kita saling tukar informasi.
Saya : Safar Dody, Peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Jakarta. Saya punya ambisi untuk mengekspose Sumberdaya Laut Banda Neira . Untuk itu saya juga minta dukungan teman-teman dari Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Sjahrir Banda Neira dan teman lainnya dimanapun berada, untuk memulai suatu eksplorasi sumberdaya yang ada dan kemudian kita expose ke dunia luar (sudah tentunya lewat kegiatan penelitian ilmiah yang dibantu oleh mahasiswa STP). Ini juga bisa membantu para dosen dan mahasiswa untuk mengungkapkan buah pikirannya dengan metode ilmiah yang tepat.
Ok saya tunggu tanggapan teman-teman !
Capat kaneng ! Arumbae belang tar bisa laju, kalo tar panggayong sama-sama
KAPALOOO !!

Salam,
Dody (dodysafar@yahoo.com)


baca lagi.. »

Harapan Dr. Ir Safar Dody, M.Si.

Assalamualaikum :

Bapak Ojohn dan Rekan-rekan orang Banda samua,
sebaiknya katong saling kontak dulu dan boleh kita
saling ngobrol dan selanjutnya boleh kita promosikan
Banda dan saling mengsisi jika ada kekurangan sana
sini.

Ok Beta sangat setuju dengan ide ini, disamping
promosi Banda, juga makin mengasah wawasan kita
sebagai putra Banda untuk bisa melek teknologi
informasi.

Salam,
Dody

baca lagi.. »

Kerapatan dan Penutupan Mangrove Rhizopora stylosa di Gugusan Pulau Pari Kepulauan Seribu, Jakarta

Johny Dobo, Iis Triyulianti, Nurmila Anwar

ABSTRAK


Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juni 2007 yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kerapatan dan penutupan jenis vegetasi mangrove di Pulau Kongsi dan Pulau Tengah gugusan Pulau Pari Kepulauan Seribu, Jakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe komunitas mangrove di lokasi penelitian adalah komunitas mono spesies yang hanya terdiri dari satu jenis mangrove Rhizophora yaitu Rhizophora stylosa. Adanya tipe komunitas seperti ini berkaitan dengan karakteristik lingkungan serta strategi reproduksi dan kolonisasi dari jenis tumbuhan yang hanya memungkinkan bagi jenis mangrove pioner ini tumbuh dan berkembang. Walaupun demikian, kerapatannya relatif tinggi karena selain keadaan fisik lingkungan yang sesuai untuk tumbuh, juga karena komunitas mangrove di Kepulaun Seribu relatif terpisah dari pemukiman penduduk dan tidak terdapat kegiatan konversi lahan mangrove, karenanya stabilitas ekosistem ini masih tetap terjaga. Kenyataan bahwa tingginya nilai kerapatan semaian juga memperlihatkan proses suksesi yang berlangsung baik serta mencerminkan kemungkinan perkembangan komunitas mangrove ke kestabilan yang mantap.

Kata kunci : Rhizophora stylosa, kerapatan, luas penutupan, suksesi, komunitas monospesifik.

baca lagi.. »

SAIL BANDA 2010

Serba-Serbi Banda Naira